Wednesday, February 25, 2009

Kisah Rabinowitz

Beberapa tahun yang lalu di wilayah Lower East Side di New York terdapat sebuah shteibel kecil (rumah ibadah kecil). Apabila sepuluh pria berkumpul untuk sembahyang, ruangan itu menjadi ruangan berdiri saja. Dahulu ruangan itu adalah kedai tukang kunci, tidak begitu luas.

Kedai tukang kunci tua itu telah kosong selama bertahun-tahun, sampai Rabbi Seigel pindah ke wilyaha permukiman tersebut dan bertanya kepada pemiliknya apakah ia dapat menggunakan kedai kosong itu bagi umatnya dan ibadat keagamaan mereka. Ia berjanji akan mengosongkan segera pemiliknya medapatkan seorang penyewa. Pemilik itu. Moris Rabinowitz, menyadari bahwa masyrakat Yahudi di permukimannya membutuhkan tempat berdoa, tetapi ini adalah tahun-tahun depresi dan jemaat tersebut tak mampu mengumpulkan cukup uang untuk menyewa bahkan sebuah ruangan kecil macam itu. Tabi, Rabinowitz adalah seorang pria yang baik hati, dan ia mengizinkan orang-orang menggunakan ruangan itu. "Sampai aku mendapatkan seorang penyewa," katanya mengingatkan mereka. "Lalu aku terpaksa meminta kalian untuk pergi. Aku pun perlu mencari nafkah."



Dan begitulah selama bertahun-tahun kemudian, ruangan itu tetap tidak disewakan, dan jemaat berkumpul di sana setiap pagi dan sore untuk berdoa. Rabinowitz itu memiliki hati yang baik, suka menolong orang lain. Celakanya, tahuun-tahun depresi tidak bersikap ramah terhadap Rabinowitz. Ia kehilangan sebagian besar harta rumah dan pekarangan yang dimilikinya dan hanya beberapa saja yang tinggal, termasuk shteibel kecil itu.

Ia tinggal sendiri, dengan penghasilan yang amat sedikit. Pada suatu hari istri sahabat llamanya mendatangi Rabinowitz untuk menjelaskan bahwa anak laki-lakinya telah ditangkap dan dia membutuhkan $300 untuk menyewa pengacara. Maukah ia menolongnya? Rabinowitz pergi ke bank dan menanyakan saldonya kepada kasir muda. Ia mempunyai $532. Ia menarik $300 dan memberikannya ke wanita itu. Wanita itu mengucap syukur kepadanya dan berjnji membayarnya kembali segera setelah ia mampu. Rabinowitz tersenyum dan berkata,"Dengarlah, kalau kau mendapatkannya kau akan mengembalikannya kepadaku. Bukan sebelumnya!"

Beberapa bulan kemudian sahabat yang lain mendekati Rabinowitz dan bertanya apakah ia dapat meminjamkan $500 untuk perkawinan putrinya. Rabinowitz mengatakan ia tidak mempunyai uang sebanyak itu, tetapi ia akan sangat gembira memberikan apa yang dimilikinya. Ia bergegas ke bank, mengisi formulir penarikan dan menyampaikan ke kasir ,"Anda adalah kasir favoritku," katanya kepada gadis muda itu. "Anda lihat, aku benar-benar buth $500 utnuk menolong Rosen, tetapi berilah aku berapa saja yang tersisa di rekeningku," katanya dengan ramah. Fadis muda itu membalas tersenyum dan berkata,"Tuan Rabinowitz, Anda memiliki $5.532 di rekening anda. "Itu musatahil!" serunya. Gadis itu memerikasa rekeningnya lagi dan berkata,"Bnar, saya tidak bohong. Anda memilik $5.532 dalam rekening Anda."
"Oke, kalau begitu, berikan aku $500 yang diperlukan Rosen untuk pernikahan putrinya." Kasir itu menyerahkan uang tersebut kepadanya. Dan Rabinowits pergi, masi amat bingung. Ketika ia berpikir sendir,"Barangkali Tuhan yang baik hati itu telah membuka buku-buku mereka dengan paksa agar aku dapat memiliki cukup banyak uang untuk Rosen. Siapakah aku ini kok mau mempertanyakan jalan-jalan Tuhan ?".

Beberapa minggu kemudian, Rabbi dari shteibel kecil itu datang kepada Rabinowitz. "Morris," ia berkata. "Aku tahu segala sesuatunya tidak berjalan begitu baik bagimu akhir-akhir ini, tetapi kami sangat membutuhkan uang. Kau tahu keluarga Goldberg yang tinggal di sudut seberang toko bahan makanan itu? Anak mereka harus segera dioperasi. Dapatkah kau meminjamkan kurang lebih $5.000 kepada mereka untuk menyelamatkan nyawa anak mereka?" Rabinowitz melenguh. "Aku tidak genap mempunyai uang $5.000, tetapi aku akan memberimu apa saja yang kumiliki. Uang menyelamatkan nyawa seorang anak; apa lagi yang dapat lebih penting dari ini?"

Sekali lagi Rabinowitz pergi ke bank. Ia memberikan lembar penarikan kepada kasir favoritnya untuk menutup rekeningnya. "Anda tidak harus menutup rekening Anda apabila anda menghendaki $5.000, Tuan Rabinowitz. Anda mempunyai $10.000 di rekening Anda." "Sepuluh ribu dolar! Aku sudah berminggu-minggu tidak menabung!" teriak Rabinowitz. Gadis itu memeriksa ulang dan tersenyum. "Anda memang mempunyai $10.000 di rekening anda". "Apakah Anda yakin?" tanya Rabinowitz. "Yakinkah Anda? Aku tidak ingin Bank ni mengejar-ngejar aku untuk mendapatkan uang itu. "Gadis itu memeriksa lagi dan bahkan menelpon manager bank tersebut. Ia menegaskan bahwa rekening itu berisi $10.000. Gadis itu memberi Rabinowitz sebuah cek bank seharga $5.000 dan ia membawanya ke shteibel dan menyerahkan cek itu kepada Rabbi. Tetapi Rabinowitz tidak pernah mengatakan sepatah kata pun bagaimana uang itu tampaknya tumbuh di rekening banknya.

Beberapa waktu kemudian, seorang wanita tua datang kepada Rabinowitz dan mengatakan kepadanya bahwa cucunya ingin menjadi seorang dokter; ia tidak mempunyai uang untuk membiayainya ke perguruan tinggi. Rabinowitz tidak pernah mengatakan sepatah kata pun bagaimana uang itu tampaknya tumbuh di rekening banknya.

Beberapa waktu kemudian, seorang wanita tua datang kepada Rabinowitz dan mengatakan kepadanya bahwa cucunya ingin menjadi seorang dokter; ia tidak mempunya uang untuk membiayainya ke perguruan tinggi. Rabinowitz tersebyum, "Marilah kita lihat apa yang terjadi dengan rekeningku. Kalau aku memilikinya, uang itu milikmu." Ia pergi ke bank itu, mendekati kasir favoritnya, dan meminta agar dia menutup rekeningnya agar ia dapat memberikan berapa pun uang yang tersisa di rekening itu bagi cucu wanita tua itu. "Bagus," kata gadis itu. "Apakah Anda menghendaki seluruh jumlah $25.000?" Dua puluh lima ribu dolar!" katanya terperangah. "Itu mustahil! Aku tidak mengunjungi bank ini semenjak terakhir kalinya aku menarik uang itu!" Gadis itu menelpon manajer bank. Manager menegaskan bahwa sisa saldo itu betul. Rabinowitz menarik $24.000 dan segera membawanya kepada wanita tua itu. "Aku mempunyai $1.000 yang tersisa," katanya kepada wanita tua itu. "Kembalillah apabila kau membutuhkan lebih banyak."

Dan begitulah sepanjang hidupnya, Rabinowitz yang tidak mempunyai keluarga dan tidak pernah menikah-terus melaukan mukjizat-mukjizat kecil bagi teman-temannya di permukiman tersebut, memberikan apa yang dimilikinya kepada orang-orang lain. Bukan untuk dirinya sendiri. Tahun-tahun berlalu, dan ia menjadi rapuh. Anak muda yang dibiayainya menyelesaikan sekolah kedokteran itu merawatnya siang malam. Ketika Rabinowitz menjadi semakin parah, gadis muda yang maskawinnya dibayar Rabinowitz itu merawatnya. Anak muda yang pernah membutuhkan operasi untuk menyelamatkan nyawanya itu sekarang menjadi seorang bankir kaya yang mengusahakan apa saja yang dibutuhkan Rabinowitz agar tidak ekurangna sesuatu. Gedung yang menjadi tempat shteibel itu diberikan kepada Rabbi, yang dengan bantuan Rabinowitz, yang berhasil menghimpun cukup banyak uang untuk mengubah gedung itu menjadi sebuah sinagoga yang indah dimana kaum beriman dapat berdoa setiap pagi dan malam. Jadi, hidup Rabinowitz berakhirlah.

Dan bagaimana misteri rekening bank yang bertambah itu? Gadis muda yang menjadi kasir favorit Rabinowitz itu adalah putri seorang pria yang dahulu pernah menghadapi kesulitan keuangan yang serius. Rabinowitz telah menolong pria itu. Karena sedang beruntung, pria ini yang bukan orang Yahudi, membeli lotere Irlandia dan menang berjuta-juta dolar. Ia menanamkan uang itu dengan bijaksana dan mempunyai lebih banyak daripada yang diperlukannya. Ketika ia menyadari bahwa putrinya ingin terus bekerja di bank dimana rekening Rabinowitz berada, ia mempunyai ide. Ia mendepositokan uang satu juta dolar di bank tersebut dengan perintah kepada putrinya untuk mengusahakan agar rekening Rabinowitz senantiasa penuh.

Dan karena Rabinowitz senantiasa pergi ke kasir yang sama. Ia senantiiasa mampu mengusahakan agar ada uang di situ bagi keperluan apa saja yang diminta oleh Rabinowitz. Rabinowitz meninggal dunia tanpa pernah mengetahui salah satu dari hal ini, dan sampai meninggal dunia pun, ia menganggap kasir muda yang manis itu sebagai seorang malaikat yang menyamar, dikirim untuk memberkati seorang pria sengsara yang kesepian ketika ia memberkati orang-orang lain.

No comments:

Post a Comment